Total Tayangan Laman

11 Apr 2015

Mengenal Shinsen Gumi Cosplay Team


Cosplay adalah istilah bagi orang yang hobi berkostum ala karakter dalam film animasi, komik, maupun video games. Banyak masyarakat Indonesia yang menyukai cosplay, terutama warga Bandung. Bahkan banyak dari mereka membentuk suatu komunitas pencinta cosplay. Salah satu komunitas cosplay yang ada di Bandung adalah Shinsen Gumi.

Shinsen Gumi Cosplay Team didirikan pada 11 januari 2011. Awal mula didirikan komunitas ini dari inisiatif para cosplayer yang telah memisahkan diri dari komunitas cosplay lamanya. Mereka membuat tim baru lalu menamainya dengan Shiseen Gumi. Shiseen Gumi diambil dari nama perkumpulan di jepang yang berarti polisi sukarela dalam membela kebenaran.

“Saat itu kami juga punya komunitas sendiri-sendiri namun bukan Shinsen Gumi tapi pecah lalu kami inisiatif buat komunitas baru dan kami menamainya Shinsen Gumi Cosplay Team yang resmi didirikan 11 Januari 2011 yang artinya polisi tapi ga ada penyuruhnya jadi inisiatif sendiri dalam membela kebenaran.”, kata Akuy, Ketua Shinseen Gumi.

Komunitas yang pernah diwawancarai Metro TV ini lebih banyak fokus mengambil jenis cosplay game online dan Naruto pada setiap pertunjukannya. Sebagai komunitas yang belum lama, kemampuan mereka sudah banyak diperhitungkan. Mereka berani terlihat lebih ekstrim dibanding tim lainnya dalam hal kostum dan performanya. Hal tersebut dibuktikan dengan berbagai raihan gelar juara di event-event bergengsi.

“Ga tau juga yah lupa. Kalau dari 2011 juara satunya sih di rumah ada 17 piala dan sertifikat tapi ga tau kalau juara dua dan juara tiga ada berapa.”, ungkap sang Ketua Shinseen Gumi ini.

Event yang paling berkesan bagi komunitas ini adalah saat mereka mengikuti ICGP (Indonesia Cosplay Grand Prix). Mereka membuat kostum yang panjangnya hampir dua meter. Walaupun tidak juara dan hanya masuk 15 besar namun mereka bangga karena kejuaraan itu sangat bergengsi se Indonesia dan tahapan audisinya juga sangat susah.

Menurut Sangyang Mulyana Arifin Abdul Ruya yang biasa disapa Akuy ini, banyak suka dan duka dalam menjalani hobi bercosplay. Dari dukanya yang dilarang oleh orang tua, jarang tidur sampai pada saat pertunjukan terjadi kecelakaan yang membuat salah satu anggota dari komunitas ini amnesia sehari namun hal tersebut tidak membuat surut langkah komunitas ini dalam bercosplay.

Anggota komunitas Shinseen Gumi sendiri sebenarnya ada 56 orang namun anggota aktif yang terdaftar hanya 27 orang. Mereka setiap minggunya selalu meluangkan waktu untuk kumpul-kumpul hanya untuk bercengkrama agar menjaga kekompakan dan membahas mengenai turnamen-turnamen yang akan mereka ikuti selanjutnya.

Bagi teman-teman yang ingin bergabung dengan komunitas ini, mereka tidak perlu memiliki peryaratan apa-apa, hanya gabung di grup Facebook cosplay mereka dan ikut pertemuan-pertemuan yang diadakan komunitas ini. Biasanya mereka sering kumpul di Balai Kota Bandung.

“Tinggal gabung aja di facebook dan ikut di setiap pertemuannya”, tutur Akuy yang ditemui di Balai Kota Bandung. (MLA)

19 Mar 2015

Vita Marissa

Fans di mata Vita Marissa


Vita Marissa begitulah publik mengenalnya sebagai pebulutangkis handal Indonesia. Atlet kelahiran 4 Januari 1981 ini memiliki segudang pengalaman dan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. Di usianya kini, meski tidak menghuni pelatnas lagi namun ia masih berprestasi. Berpasangan dengan junior tak membuat namanya meredup. Bahkan ia “mengangkat” prestasi juniornya sehingga bisa merasakan gelar juara.

Sering mengharumkan nama bangsa membuatnya punya banyak fans. Bahkan seorang penggemar mengaku mulai menyukai bulutangkis karena melihat permainan seorang Vita Marissa. “Ci Vita itu yang pertama kali membuat saya suka dengan bulutangkis”, cerita Naomi salah satu fans dari Vita Marissa.

Selain Naomi, Denna yang saya temui di acara meet and greet bersama Vita Marisa pada Hut Bola juga punya alasan lain mengapa ia sangat menggemari sosok Sang Juara Indonesia Open Grand Prix Gold 2013 bersama Praveen Jordan ini. “Ci Vita itu orang kedua yang jadi idola saya setelah Taufik Hidayat karena dia punya kharisma, setiap orang yang melihat pasti terhipnotis dengan penampilannya.”

Namun, sebenarnya apa arti fans bagi seorang Vita Marissa? “Bagi saya fans itu memiliki 2 sisi arti, positif dan negatif.” tutur sang juara Indonesia Open 2008 bersama Liliana Natsir. Baginya fans bisa berarti positif jika memiliki attitude yang baik dan terus memotivasi para atlet. Namun, memiliki arti negatif jika terlalu addict.

Menurut atlet yang biasa dipanggil Ci Vita oleh para fansnya ini mengaku seorang atlet bukanlah artis. Jika artis perlu memiliki fans sebagai penunjang karier, namun atlet tidak. Baginya punya fans atau tidak tak akan berpengaruh terhadap karier seorang atlet. (MLA)

11 Feb 2015

Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)


Idealis Penyelaras (saya tipe kepribadian)

Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.

Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.

Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.

27 Jun 2014

Rinov Rivaldy

Rinov Rivaldy: “Senang Main Rangkap”


Rinov Rivaldy, keinginannya untuk menjadi atlet bulu tangkis memang sudah kuat dari dalam dirinya. Ditambah dukungan orang tua, ia semakin mantap untuk menjadi atlet tepok bulu.

Mengawali kariernya dari tunggal putra, Atlet kelahiran 13 November 1999 ini,  beralih ingin bermain ganda. Ia mencoba ikut seleksi Audisi Djarum di Jakarta dan akhirnya mulai bergabung di sana pada Februari 2013.  Atlet yang lahir di Bekasi ini, sukses menggondol berbagai gelar juara baik gelar di kejuaraan nasional maupun internasional. “Ingin bermain ganda karena permainannya lebih cepat,”papar Rinov.

Pada final Sirnas Jakarta (17/5)  Rinov menorehkan singgasana tertinggi. Tak tanggung-tanggung ia berhasil meraih double winner di ganda campuran dan ganda putra bersama Vania dan Andhika. Sebelumnya di tahun 2013, atlet penggemar nasi uduk ini juga memenangkan dua nomor sekaligus di Kejuaraan Asia Junior.

“Senang bisa menang di ganda campuran dan ganda putra. Pokoknya saya senang bermain rangkap. Ini memotivasi saya untuk terus berprestasi lagi,” ujar sang juara Pertamina Open 2013 bersama Andhika Ramadiansyah.

Saat ditanya apa rahasianya bisa sukses di dua nomor, atlet penggemar Lee Yong Dae ini mengatakan bahwa menjaga kondisi, pintar mengatur waktu, dan dari individunya sendiri untuk disiplin itulah kunci dari kesuksesannya.
(17/5/2014 MLA)

31 Mei 2014

Sri Fatmawati


Sri Fatmawati
Putri Desa Jadi ‘Sri’kandi Muda

Sri Farmawati, mungkin banyak yang belum mengenal atlet kelahiran 7 Juni 1999 ini. Ia memulai kariernya di bulu tangkis ketika ikut melihat saudaranya bermain bulu tangkis di desanya. “Dulu sih tau bulu tangkis dari lihat saudara main. Terus lama-lama suka dan ikut main juga,” kenang Sri.

Atlet asal Desa Tamansari Kecamatan Dringu Probolinggo ini mulai bermain bulu tangkis dari umur 6 tahun. Orang tuanya sangat mendukung ia menekuni dunia bulu tangkis. Lalu ia dimasukan ke Abadi Badminton Club di Problolinggo. Dari sanalah Sri dibina mulai dari nol hingga bisa masuk ke Pelatcab Abadi Probolinggo sebagai  7 atlet terbaik Se-Kabupaten Probolinggo.

“Saya merasa bangga melatih Sri dari yang belum bisa mukul dan akhirnya bisa membanggakan. Dia anak yang nurut saya yakin pasti dia bisa berprestasi lebih baik lagi. Pelatcab Abadi Probolinggo memang menyaring 7 atlet terbaik daerah untuk bisa masuk dan diikutkan pada kejuaraan-kejuaraan nasional, terutama Sirnas,” ujar Isye pelatih dari Sri.

Dengan perjuangan keras, atlet yang terdaftar sebagai Siswi Kelas 8 di SMP 2 Dringu ini, akhirnya menuai prestasi. Pada tahun 2013 ia berhasil menjuarai  4 dari 6 sirnas yang diikuti. Torehan prestasi pun dipertahankannya sampai pertengahan tahun ini.  Terbukti atlet yang mengidolakan Susi Susanti ini, berhasil menjuarai Sirnas Makasar dan Walikota Cup di Surabaya dengan mengalahkan Sang Juara Asia Youth Championship dari Jepang, Nidaira Natsuki.

Seiring banyaknya prestasi yang diperoleh Sri, banyak klub besar pula yang ingin meminangnya. Namun atlet masa depan indonesia ini memilih untuk berkarier di klub daerah asalnya. Orang tuanya pun mendukung pilihan Sri tersebut.

“Mau di sini aja, kalau di sini aku bisa melanjutkan sekolah formal dan ga mau jauh dari orang tua juga,” ujar atlet yang mengaku senang bermain rally ini. Hal senada pun dikatakan oleh pelatihnya. Ibu Isye sapaan akrab pelatih Sri ini mengutip perkataan orang tua Sri bahwa selagi masih bisa berprestasi di klub kecil mengapa harus pindah ke klub besar.

Hidup adalah sebuah pilihan. Memang tak selamanya bermain di klub besar menjamin prestasi. Sri dulu hanyalah atlet desa kini ia menjadi Srikandi untuk desanya. Semoga prestasinya terus bertambah. Indonesia haus akan prestasi tunggal putri dan Indonesia berharap padamu. (MLA).

18 Okt 2013

Perjalanan 'Perjuangan' Menuju Pare (Kisah Menuntut Ilmu di Kampung Inggris Part 1)

Tak pernah disangka Aku bisa melakukan perjalanan yang sangat jauh. Tak tanggung-tanggung sampai ke daerah Jawa Timur yang bisa dikatakan lumayan jauh dari Jawa Barat. Aku ke sana hanya demi mengisi liburanku. Waktu itu sempat bingung selama 2 bulan liburan apa yang mesti aku lakukan? hmm untung ada temanku yang bernama Nuri, dia mengusulkan untuk ke Pare yang banyak orang lebih mengenalnya dengan sebutan “Kampung Inggris”.

Sambil menyelam minum air itulah pribahasa untuk mengisi waktu liburku. "Yaa, selain liburan Aku kan juga dapat mengisi liburnku dengan menuntut ilmu bahasa inggris", pikirku dalam hati. Namun perjalanan dalam menuntut ilmu itu pun tak semudah apa yang dibayangkan. Walaupun niatnya baik yaitu menuntut ilmu tapi tetap saja banyak krikil yang harus ditempuh dan butuh perjuangan dalam menapaki secuil ilmu.

Di mulai dari keberangkatanku, Aku beli tiket kereta satu hari sebelum keberangkatan di stasiun Bandung. Aku berangkat malam hari dengan Nuri dan diantar oleh ayahku.  Aku kira tidak akan kehabisan tiket, maklum selama ini Aku belum pernah berpergian jauh dengan menggunakan kereta api kecuali dengan commuterline yang jaraknya hanya Jabodetabek saja. Eh ternyata tiketnya abis sampai tanggal 11 :(. Pernah sih ada temanku yang bernama Meike (Aku cerita ke dia kalau Aku mau ke pare dan banyak informasi yang Aku dapatkan sama dia karena adiknya Meike pernah ke sana juga) dia memperingatkanku tentang tiket kereta api, “Jangan sampai kamu kehabisan mil, kalau bisa beli jauh-jauh hari, kamu bisa beli di al*a mart atau ind*mart”, begitulah kira-kira kata dia. Nyesel juga sih tidak mendengarkan kata-kata dia.

Akhirnya besoknya Aku mencoba ke terminal bus. Sempet bingung bus yang ke arah terminal Kediri itu adanya di terminal leuwi panjang atau terminal caheum. Maklum kami berdua sama-sama pendatang di Bandung ini. Cari info ke temennya temen menanyakan busnya ada di terminal mana, kata dia ada di terminal lewi panjang. Akhirnya kami ke terminal lewi panjang. Di terminal lewi panjang Aku cari-cari bus yang ke arah ke kediri tapi tidak ada, kemudian Aku tanya tuh ke salah satu orang di sana dan ternyata bus yang untuk kota-kota jauh itu adanya di terminal caheum (issh aku salah informasi). Bodohnya Aku, saat biasanya pulang ke Bekasi selalu ke terminal lewi panjang terlebih dahulu. Aku jadi mikir "oh iya ya Aku kan ga pernah liat bus-bus yang ke arah daerah-daerah yang jauh. Paling di sana adanya bus jurusan Jabodetabek dan Jawa Barat saja". Mana perjalanan dari Ledeng ke Lewi Panjang jauh banget.

Takut kehabisan tiket. Akhirnya dari sana Aku naik damri yang ke arah terminal Caheum. Sesampainya di sana ternyata tiketnya juga habis dan adanya tanggal 12. OMG makin lama dong aku telat masuk belajarnya. Lalu aku pikir mending Aku naik kereta saja kan mereka bilang masih ada tiket kereta ke Kediri untuk tanggal 11 lagipula selain murah juga cepet sampainya kalau naik kereta api.

Pada hari itu juga Aku ke stasiun lainnya yang ada di Bandung juga yaitu Stasiun Kircon berharap stasiun ini ada tiket untuk Aku dan Nuri. Sesampainya di sana antrinya panjang banget dan eng ing eng ternyata tiketnya habis. Kata petugasnya di sana tiketnya yang masih tersisa itu tanggal 16. Langsung lemes seketika. Hampir putus asa untuk mendapatkan tiket. Kami sudah banyak mengeluarkan ongkos hanya untuk mendapatkan 2 buah tiket ke Kediri namun hasilnya nihil. Rasa lelah menghampiri Aku dan Nuri. Bayangkan kami dari ledeng terus ke terminal lewi panjang lalu ke terminal cahem lanjut ke stasiun kircon. Mungkin untuk orang Bandung tahu betapa jauhnya jarak tempat-tempat itu.

Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke kosan Aku yang berada di Cilimus. Sempat pikir yang tiketnya habis itu kan untuk kereta Kahuripan saja yang memang adanya di Kircon, kalau kereta Malabar yang ada di Stasiun Hall Bandung kan kata petugasnya ada tanggal 11, mungkin beda. "Aduh masa kita harus ke stasiun hall bandung lagi" pikiran kami terus berkecamuk. Lalu kami putuskan untuk pulang saja dan berencana beli tiketnya di Ind*mart yang keberadaannya lumayan deket dari kosan aku, tepatnya depan Terminal Ledeng. "Siapa tahu aja ada", pikir kami berdua. Sesampainya di terminal ledeng kita langsung ke Ind*mart dan ternyata jreng-jreng tiketnya adanya untuk tanggal 16 Juli. Aduh sama saja kalau begitu mending naik bus yang buat tanggal 12. Kami pun memutuskan untuk ke kosan Aku terlebih dahulu untuk istirahat sebentar sekalian shalat ashar dan berdoa agar dimudahkan perjalanan kami menuju Pare.

Abis shalat asar kami menuju Terminal Caheum lagi. Sampai di sana ternyata eh ternyata tiket yang untuk tanggal 12 sudah habis, adanya untuk tanggal 13. Langsung Kami liat-liatan, terlihat sekali wajah Nuri tampak lelah, mungkin Aku juga sama di mata Nuri. Kami sontak langsung berdiskusi dan memilih untuk membeli tiketnya sekarang juga daripada nanti kehabisan lagi. Kami pun akhirnya memutuskan untuk membeli tiket bus jurusan Bandung-Kediri seharga 185ribu nama busnya Pahala Kencana. Heek mahal juga yah yang Aku kira paling ongkosnya120ribuan. Kata yang jual tiketnya itu sih harga tersebut sudah termasuk makan sekali dan busnya juga eksekutif yang enak. Ya akhirnya tiketnya pun sudah ada di tangan Kami berdua.

Yap tanggal 13 Kami berangkat. Sungguh tidak sabar ingin melihat suasana Jawa Timur itu seperti apa (maklum Aku ga punya kampung jauh sih haha). Pada jeda waktu 2 hari sebelum keberangkatan, Kami ke lakon dulu. Lakon adalah UKM Teater kampus kami berdua. Memang Lakon mau mengadakan acara Pagelaran Seni dan Budaya di Amphiteather UPI. Jadi kami ingin melihat latihan jiar mereka sekalian Kami sesumbar akan pergi ke pare untuk belajar bahasa inggris. Mereka pun men”cie-cie”kan kami. “Nanti kalau kalian balik ke Bandung bisa cas cis cus dong”, begitulah salah satu komentar dari teman-teman Kami. Aku dan Nuri pun tak lupa meminta doanya ke mereka semoga dilancarkan. Sebagai anggota yang baik Kami pun membantu mereka memasangkan perlengkapan pementasan.

Aku kaget kalau Nuri mau menginap di Amphiteather dan tidak tidur demi membantu anak-anak Lakon yang akan pentas. Aku langsung kesel bukannya tidak boleh membantu tapi waktunya tidak tepat kan besoknya mau berangkat, seharusnya dia tuh harus menjaga fisiknya dan siap-siap dari sebelumnya agar tidak terlambat. Memang dia loyalitasnya tinggi banget ke Lakon, tapi sayang Lakon menyia-nyiakan. Akhirnya Aku pulang ke kosan sendirian mana udah malem banget jam11-an.

Besoknya Aku sudah siap-siap packing buat berangkat ke Pare. Busnya dijadwalkan berangkat jam 17.00 WIB, jadi pagi-paginya bisa tinggal mengecek perlengkapan apa saja yang harus Aku bawa. Sempat mikir Aku kan dibawain koper sama mamah dan ayah katanya buat ke Pare tapi kok terlalu gede yah? takut lebay kesannya nanti temen-temen di sana malah bawanya cuma tas jinjing. Tapi sudahlah pake aja lagian bawa koper kan tidak perlu capek-capek angkat tinggal digiring doang. Karena perjalanan dari Ledeng ke Caheum itu lama+macet jadi Kami rencananya akan berangkat jam 14.00.

Tepat jam 14.00 Aku menunggu Nuri di Kosan belum dateng-dateng juga. Aku telepon dia, dan ternyata dia ada di Amphi. “bentar yah Mil, Aku lagi di Amphi, mau bantu bentar”, begitulah kata dia. Ya ampun anak ini padahal mau perjalanan jauh tapi masih mikirin Lakon -___-. Nah jam 14 lewat dia baru ke kosannya buat nyiapin baju+perlengkapan lainnya. Okay aku pun nunggu dia dan Kami juga makan dulu.

Tepat jam 15.00 kami berangkat dari kosanku. Kami ke terminal ledeng dulu, di tengah perjalanan, Aku lupa belum bayar uang kuliah dan hari ini adalah hari terakhir. Mampuslah udah jam3 tapi karena hari ini hari terakhir pembayaran kuliah dan kalau telat bayar bakalan dicutikan jadi lebih baik bayar SPP dulu ke BNI kampus. Di BNI antriannya parah. Mungkin karena pembayaran hari terakhir. “Sabar-sabar”, omonganku dalam hati. Aku baru kelar jam 15.30 dan langsung meluncur ke terminal Ledeng-Caheum. Berharap tidak macet di jalan eeeeeeeedodoe macet juga -__-, mana macetnya parah dan berada di beberapa titik, tidak hanya satu. Rasanya mau teriak. Ingin naik ojek tapi sepanjang jalan tak ada tukang ojek. Akhirnya Kami hanya pasrah di angkot.

Jam 16.45 Aku ditelepon dari pihak Pahala Kencana (mungkin dia bingung ni orang kenapa belum dateng). Setelah menjelaskan bahwa kami masih di perjalanan menuju Caheum si bapak-bapaknya pun bilang “Oke mba jangan lupa jam 17.00 harus sudah sampe di terminal caheum yah” omongan bapak itu masih terngingang di telingaku. Jam17.00 dia meleponku lagi menanyakan Aku sudah sampe mana. Aku bilang aja masih dalam perjalanan, macet parah. Terus dia bilang oke saya tunggu 15 menit lagi. Aduh Aku langsung lihat jam bener sudah jam 5 sore dan aku masih di daerah Taman Sari, masih jauh bangeeeet. Mana angkotnya ngetem segala.

Jam 17.15 dia nelepon aku lagi, dia menanyakan sudah sampe mana. “Aduh pak maaf banget, Kami masih terjebak macet, tolong tungguin Kami pak”, pintaku dengan intonasi memelas. “Emang mbanya udah ada di mana?”, tanya dia lagi. “Saya masih di katamso”. “Aduh mba itu masih jauh banget, penumpang yang lain sudah marah-marah, kalau begitu saya tinggalkan saja yah”. begitulah kira-kira ucapannya. Sontak Aku langsung bernegosiasi dengan Bapak itu memohon untuk menunggu Kami. Tapi ternyata tidak bisa, Kami pun ditinggal bus (hal yang paling konyol menurutku "ditinggal bus").

Helooow kejadian ditinggal bus itu langka sekali dan memalukan!!! Kalau ditinggal kereta sih masih wajar, ini ditinggal bus! parah banget. Sontak Kami jadi lemes, rasanya mau nangis. Nuri berpikiran untuk membatalkan saja ke Pare. Aku bilang jangan, sayang sudah bayar uang pendaftaran 660ribu. “Abis mau gimana lagi Mil, Aku ga ada uang lagi, udah abis buat ongkos”, pasrah nuri. Aku coba menguatkan dan meyakinkan hati dia, kita harus ke sana bagaimanapun juga. “Kamu bisa pinjem uangku dulu”, saranku. Kami pun telepon orang tua masing-masing mengabarkan bahwa kami ketinggalan bus. Saran mamanya Nuri sih terserah anaknya saja mau tetep lanjut ke pare atau enggak. Dengan segenap kemampuan Aku meyakinkan Nuri kalau ia harus ke Pare akhirnya dia pun mau juga.

Kami sampai Terminal Caheum jam 18.00 pas banget magrib. Di sana Kami bertemu ke penjual tiketnya, menumpahkan segala kesedihan yang Kami alami. Kami menanyakan apa besok masih ada tiket lagi. Alhamdulillah untuk tanggal 14 juli ada dan itu pas banget tinggal 2 tempat duduk. Kami harus membayar tiketnya lagi tapi karena mereka liat wajah sedih kami akhirnya mereka memangkas uang tiketnya 50% jadi kami hanya bayar 90rb saja. Kami langsung membelinya, “biarin deh bayar lagi yang penting kami bisa sampe Pare”, pikirku.

Tepat tanggal 14 Juli 2012 jam 11 siang Kami berangkat dari kosan. Tidak mau kejadian kemarin terulang lagi oleh karena itu Kami berangkat pagi-pagi. Sialnya tidak begitu macet, walaupun abangnya ngetem, jadinya Kami sampe di terminal caheum jam 12.30. Bayangkan saudara-saudara dari jam 12.30 ke jam 17.00 lama banget kan??? mana ternyata busnya datengnya jam 17.30. Setelah busnya sampe kami digiring ada salah satu bapak-bapak yang membantu Kami membawakan tas Kami, dia juga yang kasih tau Kami kalau busnya belum ada ataupun sudah ada. Aku bingung juga kok ada yah orang sebaik itu, mungkin karena kasian melihat Kami kemarin ketinggalan bus kali yah. Kami pun diantar sama bapak itu ke depan bus. Eh ternyata… si bapak itu minta bayaran 20ribu. Sontak kami kaget, “Dikira saya bapak mau membantu”, ungkap kekesalan Aku. “iya tapi tetep aja harus bayar”, jawab si bapak itu dengan menyebalkan. “saya ga ada uang receh pak”, jawabku. Lagipula emang bener Aku ga ada uang receh. Di dompetku yang ada 100rb. Eh si bapak itu malah jawab “saya ada kembaliannya kok”. Ebuset ini orang niat banget. Dengan gontai tanganku memberikan uang ke dia. Dalam keadaan seperti ini ada aja cobaan.

Akhirnya bus Pahala Kencana itu jalan mengantarkan Kami menuju Kediri. Di dalam perjalanan Aku menghabiskan waktu untuk tidur. Sampai pada akhirnya Kami diberhentikan di salah satu rumah makan. Kami sempet bingung, ini udah nyampe toh? koh cepet banget. Eh tau-taunya Kami dikasih makan gratis. Oia baru inget tiket bus Bandung-Kediri kan ada fasilitas dapet makan 1x. Sebelumnya Kami sudah dikasih snacke dikira snek itulah makanan yang dimaksud penjual tiket itu. Ternyata dikasih makan lagi alhamdulillah. Kali ini makanan berat (bukan batu loh yah hahaa)

Kami makan di rumah makan yang modelnya kaya prasmanan gitu. Kalau tidak salah ada 5 macam lauk termasuk lalapan. Tidak banyak variasinya juga sih. Aku makan telor balado sama sayur (lupa sayur apa). Oia sebelum mengambil makanannya, Kami diharuskan menunjukan tiket bus tersebut. Untung Aku bawa di dompet+tiketnya Nuri juga. Dia nitip tiket ke Aku, katanya kalau di dia takut hilang (hahaha nuri selalu begitu). Di tempat istirahat itu juga terdapat warung. Sekalian Aku mau beli Fr*sh C*re dan Ant*m*. Soalnya ini perut enggak enak banget+mual+ kepala pusing. Setelah naik bus lagi, Aku pun tertidur lagi. Sempet bangun tidur, tidur lagi, bangun lagi, tidur lagi (mbah suriiiip kaleee hahaa).

Ketika bangun lagi aku melihat pemandangan sekitar pukul 05.30 sudah mulai agak terang jadi terlihat pemandangannya. Pas lihat plang jalan, oh ternyata Aku sudah berada di Jawa Tengah. Oia dikira Aku dan Nuri, semua penumpang ini pada turun di terminal Kediri, tau-taunya ada yang turun di Surakarta, dll. Terus aku tidur lagi, bangun-bangun Sudah sampai di Nganjuk. Langsung perut bermasalah lagi dan kali ini malah ingin buang air besar n kecil. Kayanya masuk angin, gara-gara nahan buang angin (kan tau diri juga ga mungkin buang angin di bus yg berAC pula) jadinya malah ingin p*up mana kebelet p*pis juga. Akhirnya Aku ke toilet bus. Busnya ada toilet sih tapi tetep saja tidak nyaman, mana gayungnya gelas mineral water. Jam*annya juga yang duduk, semakin Aku berpikir 2x buat p*p n p*pis di sana. Aku emang tidak terbiasa jam*ban bermodel tempat duduk, kalaupun ada pasti tetep aja aku jongkok di tempat duduk itu (kaya di rumah) terus mana di bus kamar mandinya goyang-goyang semakin membuat tidak nyaman. Akhirnya aku menahan diri untuk tidak buang air besar n kecil dan harus menahannya sampe Terminal Kediri.

Sempet berhenti sekitar 20 menitan, Kami lihat di luar lewat kaca ternyata ada sesuatu yang rusak atau apa gitu tidak paham juga. Mau keluar males. Akhirnya busnya itu jalan lagi. Penumpang di bus sudah tinggal dikit 3 rombongan kalau tidak salah. rombongan pertama (2 orang) Aku dan Nuri, yang kedua (2 orang) lagi kayanya mereka temenan cewe-cowo. Terus yang ketiga (4 orang) kayanya mereka keluarga. Kami ditanya mau ke mana sama keneknya atau apanya gitu ga ngerti. Terus kami jawab mau ke Pare. Oia sebelum dia nanya ke Kami dia nanya dulu ke 2 orang cewe-cowo itu. Mereka jawab mau ke pare. Wow akhirnya Kami ada temennya. Lumayanlah jadi Kami bisa barengan sama mereka karena Kami juga tidak tahu sehabis dari terminal Kediri naik apa lagi untuk sampai ke Pare. Padahal Kami sudah pakai jasa penjemputan dari pihal travelnya tapi berhubung Kami sampai sananya minggu dan kata pihak sananya kalau hari minggu itu libur jadi Kami tidak dijemput, 60rb melayang.

Ternyata kami tidak diturunkan di terminalnya tapi di sebelumnya. Kata kenek+supirnya sih, turun sini saja ada banyak angkot yang ke arah Pare. Pas Kami turun sepi dan tidak ada angkot. Eh Kami ditanyai mau ke mana sama 2 orang sana. 1 orang bertanya ke 2 orang yang cewe-cowo itu, satu orangnya lagi bertanya ke Aku sama Nuri. Kami bilang mau ke Pare. “Oh ayo diantar.” dikira supir angkot eh tau-taunya tukang ojek. Siaaal!! Mana mereka minta bayaran 50ribu satu orang. Ih ogah banget mahal. Terus Kami liat cewe-cowo itu nyebrang jalan. Kayanya mereka tidak naik ojek yang ditawarin itu deh. Sempet mau naik ojek karena sudah tidak tahu lagi naik apa (kurang informasi sih) pas Kami lihat mereka, Kami pun menolak pake ojek dan mengikuti cewe-cowo itu.

Daaaan ternyata pilihan kami tepat! mereka naik angkot. Wow akhirnya ada angkot ke Pare. Lumayanlah lebih murah pasti, walaupun masih belum tau berapa harganya. Angkot di sana tidak sama seperti yang di Bekasi, Jakarta, ataupun Bandung. Jenis angkotnya mirip mobil pribadi. Posisi duduknya sama kaya mobil pribadi eh tapi sama kaya angkot yang jurusan leuwi panjang-ciwidey seperti itu deh, hehee.

Kami itu saling diem-dieman sama tuh cewe-cowo. Mereka juga tidak bertegur-sapa ke Kami atau tanya basa-basi lah tentang mau ke Pare juga yah atau menanyakan daftar di lembaga apa atau dari bandunnya di mananya atau apalah gitu, kan sama-sama dari Bandung tuh, tapi emang sih takut disangka SKSD juga. Akhirnya Aku memberanikan diri untuk bertanya. Penasaran juga sih mereka daftar di lembaga apa, siapa tau sama kan bisa bereng. Ternyata mereka  di lembaga ‘Genta’ si cewe itu ke sana untuk menemani adiknya, agar sekalian dari sana langsung pulang kampung ke Medan. Jadi si cewe itu sih cuma 2 minggu di Pare untuk menemani adiknya. Terus yang cowonya itu dia bilang sih temennya untuk menemani dia ke Pare. Entahlah itu temen atau pacarnya hahaha. Oia mereka dari kampus Telkom. Aku tidak menyangka ternyata dia orang Medan. Setahu Aku orang Medan itu punya ciri khas, dan dia mukanya bukan ciri khas orang Medan tapi malah lebih mirip ciri khas orang Bandung+logatnya juga, walaupun dia tidak berbicara bahasa sunda.

Seiring laju angkot, akhirnya angkot itu berhenti di lembaga ‘Genta’. Dalam hati bicara "oh ini toh lembaga genta, bagus juga tempatnya". Mereka pun turun. Sempat terdengar si cowo itu tanya berapa ongkosnya ke supirnya dan supirnya jawab 20ribu. Oh jadi nanti kita bayarnya 20ribu. Sebenernya kalau aku tahu dari awal sih biasanya itu 10-15ribu. Kami dibohongi, tapi tidak apa-apalah lagian bapaknya itu ramah juga dan mengantarkan kami tepat di depan lembaga yang ingin Kami belajar ilmunya yaitu ‘Marvelous’.

Sampailah kami di kantornya Marvelous, “ko kecil yah mana camp-nya”, tanyaku dalam hati. Kami pun mengurus administrasi di sana. Kemudian Kami diantar naik motor menuju camp. Karena motornya satu jadi Kami diantar bergantian. Pertama Nuri terebih dahulu. Aku menunggu di kantornya. Tak lama Aku pun diantar menuju camp14! Akhirnya Aku sampai juga di Pare juga yang biasa dikenal dengan sebutan "Kampung Inggris". :) 

***

24 Sep 2013

Ahsan/Hendra Kembali Memetik Gelar Juara

Ahsan/Hendra kembali mengoleksi gelar juaranya di Japan Open Super Series 2013 setelah berhasil mengandaskan pasangan ganda putra yang baru dipasangkan asal china Chai Biao/ Wei Hong dengan skor 22-20 21-16.

Dengan hasil ini Ahsan/Hendra berhasil menjuarai 4 turnamen secara berturut-turut (Quattrick) dalam setiap turnamen yang mereka ikuti.

Indonesia Open Primier Super Series, Singapore Open Super Series, Wold Badminton Championship, dan Japan Super Series merupakan agenda turnamen yang mereka ikuti dan semua turnamen tersebut dapat dimenangi oleh pasangan yang baru dipasangkan pasca Olimpiade London ini.

Sebenarnya Ahsan/Hendra di awal bulan 2013 ini menjuarai Malaysia Open setelah mengalahkan ganda terbaik korea Ko/Lee, namun predikat 5 kali juara berturut-turut untuk turnamen yang mereka ikuti tersebut terputus karena pada saat All England mereka dikandaskan oleh pasangan China Liu Xiaolong/Qiu Zhian di babak semifinal.

Saat Sudirman cup nama mereka dicantumkan di dalam skuad tim Sudirman Cup Indonesia namun Ahsan/Hendra tak diturunkan sebab kondisi Ahsan yang masih kurang fit sehingga Hendra pun berpasangan dengan Rian Agung kala berjumpa Cai/Fu di babak kualifikasi.

Pasangan ganda terbaik Indonesia ini kembali turun gunung di turnamen Indonesia Open dan Singapore Open. Tak tanggung-tanggung mereka langsung juara dan kembali mengandaskan ganda peringkat no.1 dunia Ko/lee di final sehingga head to head pertemuan mereka di tahun 2013 ini menjadi 3-0.

Setelah mengikuti Singapore Open, mereka melanjutkan pertarungan di turnamen World Badminton Championship (WBC). Hasilnya Ahsan/Henda berhasil menyandingkan gelar juara dunia bersama Tontowi/Lilyana.

Istirahat di beberapa turnamen setelah WBC, pasangan yang terpaut usia 3 tahun ini kembali mengikuti Japan Super Series dan mereka kembali meraup koleksi gelar juaranya di pertengahan tahun ini.

Ungkapann bahwa Ahsan/Hendra merupakan Yu Yang/ Wang Xiaoli-nya di ganda putra bisa benar adanya karena pada tahun 2013 pasangan peringkat dua saat ini seolah-olah menjelma menjadi monster yang menakutkan bagi para pesaingnya.

Indonesia GPG turnamen yang akan mereka ikuti selanjutnya. Apakah mereka akan menyempurnakan gelar 5 kali berturut-turut? Menarik untuk kita nantikan :) 

Malaysia Open 2013                                                            Indonesia Open 2013


Singapore Open 2013


World Badminton Championship 2013



Japan Open 2013